PSKP, Jakarta - Pusat Standar dan Kebijakan Pendidikan (PSKP) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menyelenggarakan Diskusi Kebijakan Pendidikan bertajuk "Meluruskan Miskonsepsi Pembelajaran Mendalam: Memahami Konsep, Menguatkan Praktik" secara daring pada Kamis, 30 Juli 2026.
Penyelenggaraan Diskusi Kebijakan ini merupakan bagian dari pelaksanaan fungsi PSKP dalam mendiseminasikan hasil evaluasi kebijakan. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi wadah komunikasi kebijakan antara pemerintah dan para pemangku kepentingan pendidikan untuk membangun pemahaman yang sama mengenai arah dan substansi kebijakan Pembelajaran Mendalam (deep learning).
Dalam sambutannya, Kepala PSKP, Irsyad Zamjani menyampaikan bahwa Pembelajaran Mendalam merupakan langkah strategis yang diambil Kemendikdasmen agar murid memiliki pengalaman belajar yang lebih bermakna. Ia juga menekankan pentingnya menghadirkan pengalaman belajar yang kontekstual dan menggembirakan bagi murid maupun guru, agar pembelajaran tidak hanya sekadar teori, tetapi dapat terhubung dengan konteks sehari-hari.
“Kita benar-benar ingin menyajikan pengalaman belajar yang lebih dinikmati anak-anak maupun guru, supaya bisa menyambungkan teori yang ada di buku dengan persoalan sehari-hari,” ujar Irsyad. Irsyad juga berharap agar forum ini dapat menjadi forum untuk belajar bersama antara peserta maupun Kemendikdasmen.

Penerapan Awal Pembelajaran Mendalam
Pada sesi paparan, Analis Kebijakan PSKP sekaligus anggota tim Kajian Pembelajaran Mendalam, Tito Erland Setyadi, menyampaikan temuan refleksi implementasi awal Pembelajaran Mendalam pada 2025. Kajian yang dilaksanakan oleh PSKP tersebut memberikan gambaran mengenai pelaksanaan pelatihan, kondisi awal implementasi di satuan pendidikan, hingga tantangan yang masih dihadapi sekolah dalam menerapkan pendekatan tersebut.
Tito menjelaskan bahwa Pembelajaran Mendalam dirancang untuk membentuk delapan dimensi profil lulusan melalui tiga proses utama, yaitu memahami, mengaplikasi, dan merefleksi. Untuk mendukung penerapannya, UPT Kemendikdasmen di daerah menyelenggarakan pelatihan bagi guru, kepala sekolah, dan pengawas dengan pola in–on–in yang memadukan pembelajaran daring, praktik di sekolah, pendampingan, dan refleksi.
PSKP turut melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap penerapan awal Pembelajaran Mendalam untuk mengidentifikasi persepsi peserta pelatihan sekaligus memotret kondisi awal implementasinya di satuan pendidikan. Hasil kajian menunjukkan bahwa baru 28,5% sekolah yang telah menjalankan prinsip-prinsip Pembelajaran Mendalam dengan baik, sementara sebagian besar sekolah lainnya masih berada pada tahap awal.
Kajian ini juga menemukan adanya variasi penerapan pada setiap prinsip Pembelajaran Mendalam. Prinsip "menggembirakan" menjadi aspek yang paling banyak diterapkan, sedangkan prinsip "berkesadaran" justru menjadi tantangan utama karena penerapannya berada pada tingkat paling rendah. Kondisi ini terjadi karena praktik pembelajaran oleh guru belum optimal, misalnya kurangnya pelibatan murid dalam proses belajar, minimnya dorongan terhadap refleksi, kontekstualisasi materi dengan pengalaman nyata murid belum dilakukan, serta terbatasnya variasi metode pembelajaran.
Dari sisi jenjang pendidikan, penerapan Pembelajaran Mendalam relatif lebih baik di SLB dan SMA. Sebaliknya, tingkat penerapan terendah ditemukan di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) dan Sanggar Kegiatan Belajar (SKB).
Tito menambahkan, hasil evaluasi awal ini menegaskan pentingnya dukungan kepemimpinan kepala sekolah, kolaborasi antarguru, serta evaluasi rutin terhadap perencanaan pembelajaran sebagai faktor yang berkontribusi terhadap keberhasilan penerapan Pembelajaran Mendalam di satuan pendidikan.
Prinsip Pembelajaran Mendalam dan Penerapannya
Pada sesi berikutnya, Nur Luthfi Rizqa Herianingtyas selaku anggota Tim Pengembang Pembelajaran Mendalam menjelaskan bahwa pendekatan ini dibangun atas empat komponen yang saling terhubung, yaitu dimensi profil lulusan, prinsip pembelajaran, pengalaman belajar, dan kerangka pembelajaran. Keempat komponen tersebut menjadi acuan dalam merancang proses belajar yang berorientasi pada pencapaian kompetensi murid.
Dimensi profil lulusan mencakup delapan kompetensi utama, yaitu keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, kewargaan, kreativitas, penalaran kritis, kolaborasi, kemandirian, kesehatan, dan komunikasi. Sementara itu, pengalaman belajar dirancang agar murid tidak hanya memahami materi, tetapi juga mampu mengaplikasikan dan merefleksikan hasil belajarnya melalui praktik pedagogis, kemitraan pembelajaran, lingkungan belajar yang mendukung, serta pemanfaatan teknologi digital.
Rizqa menjelaskan bahwa tiga prinsip utama Pembelajaran Mendalam—berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan—tidak harus diterapkan secara berurutan, melainkan dapat berlangsung bersamaan dalam satu proses pembelajaran. Misalnya, guru dapat mengawali pembelajaran dengan apersepsi kontekstual dan diskusi aktif yang melibatkan murid dalam menentukan strategi belajar, sehingga aspek berkesadaran dan bermakna berkembang secara simultan.
Prinsip berkesadaran mendorong murid mengenali strategi belajar, mengevaluasi proses, serta merefleksikan capaiannya, dengan guru berperan memfasilitasi refleksi dan umpan balik berkelanjutan. Adapun pembelajaran bermakna menghubungkan materi dengan persoalan nyata agar murid mampu berpikir kritis, kreatif, dan reflektif dalam memecahkan masalah, sehingga guru perlu merancang aktivitas kontekstual yang relevan dengan kehidupan sehari-hari murid.
Mengakhiri paparannya, Rizqa menegaskan bahwa tiga pengalaman belajar—memahami, mengaplikasi, dan merefleksi—dapat dirancang bertahap dalam beberapa sesi, tidak harus tuntas dalam satu pertemuan. Ia menambahkan bahwa kegiatan menghafal (deep memorizing) tetap penting sebagai fondasi pengetahuan, tetapi perlu dilanjutkan dengan kemampuan menghubungkan konsep, menemukan pola, dan menerapkan pengetahuan untuk menyelesaikan persoalan nyata.
Praktik Penerapan Pembelajaran Mendalam di Sekolah
Sesi selanjutnya menghadirkan Guru SMKN 7 Kabupaten Tangerang, Esti Prasetyaningsih, untuk berbagi praktik penerapan Pembelajaran Mendalam sekaligus meluruskan miskonsepsi yang masih sering ditemukan di sekolah.
Esti menjelaskan, Pembelajaran Mendalam menempatkan murid sebagai pusat belajar, sementara guru menjadi fasilitator melalui berbagai strategi, seperti pembelajaran berbasis proyek, pembelajaran berbasis masalah, eksperimen, simulasi, dan integrasi dunia kerja. Ia menyoroti miskonsepsi yang masih beredar, misalnya Pembelajaran Mendalam kerap dianggap identik dengan kecerdasan artifisial, dianggap kurikulum baru, atau dianggap menuntut materi lebih banyak dan sulit. Miskonsepsi ini turut memengaruhi praktik pembelajaran dan asesmen.
Menurut Esti, kelas yang ramai belum tentu menandakan pembelajaran mendalam, dan keberhasilan belajar tidak hanya dilihat dari produk akhir. Penilaian mesti mencakup keseluruhan proses—kolaborasi, refleksi, dan perkembangan murid—sekaligus memberi ruang berkarya sesuai minat masing-masing.
Teknologi, kata Esti, hanya alat bantu. Fokus utama tetap pada proses berpikir, pemahaman konsep, refleksi, dan penerapan pengetahuan. Sebagai contoh, SMKN 7 Kabupaten Tangerang memulai penerapannya dengan menyamakan persepsi seluruh warga sekolah, lalu memperkuatnya lewat praktik kerja lapangan (PKL), teaching factory, komunitas belajar, dan tutor sebaya.
Salah satu praktiknya, kolaborasi lintas mata pelajaran menyinergikan Seni Budaya, Muatan Lokal Banten, Bahasa Indonesia, Sejarah, serta Produk Kreatif dan Kewirausahaan. Murid mengamati batik Banten, mengkaji nilai sejarah dan budayanya, membuat karya batik di kanvas, memasarkannya lewat media sosial, lalu merefleksikan prosesnya. Hal ini menjadi bukti bahwa Pembelajaran Mendalam dapat diterapkan secara kontekstual dan dekat dengan pengalaman nyata murid.

Pada sesi diskusi, salah satu peserta menyoroti tantangan penerapan Pembelajaran Mendalam di kelas awal SD, mengingat murid pada jenjang tersebut masih fokus menguasai kemampuan dasar membaca dan menulis.
Bu Siswati sebagai guru SD menanyakan, “Pembelajaran Mendalam ini sangat menarik, namun bagaimana penerapannya di sekolah dasar kelas awal yang mana kenyataannya mereka masih fokus berjuang untuk dapat membaca dan menulis dengan baik dan benar. Apakah ada strategi khusus yang dapat diterapkan untuk anak SD kelas bawah ini?”
Narasumber menjawab, penerapan Pembelajaran Mendalam di kelas awal SD dilakukan dengan mengaitkan materi pada pengalaman dan lingkungan terdekat murid, seperti benda dan situasi sehari-hari. Pendekatan ini juga mendorong murid berdiskusi, berbagi pengalaman, dan membangun kepedulian terhadap lingkungan agar konsep lebih mudah dipahami.
Pembelajaran Mendalam berlaku untuk semua mata pelajaran, termasuk agama, dan tidak berhenti pada pemahaman prosedur, tetapi menuntut penerapan pengetahuan untuk menyelesaikan masalah nyata. Misalnya, praktik wudu tidak hanya mengajarkan tata cara yang benar, tetapi juga nilai hemat air, kepedulian lingkungan, dan budaya antre. Pendekatan ini fleksibel karena dapat disesuaikan dengan jenjang dan mata pelajaran.
Sebagian besar pertanyaan peserta berpusat pada penerapan Pembelajaran Mendalam di kelas awal SD, penggunaan pertanyaan pemantik, integrasi lintas mata pelajaran, hingga penciptaan lingkungan belajar yang aman. Narasumber menegaskan, Pembelajaran Mendalam bukan pendekatan baru yang menggantikan model pembelajaran yang ada, melainkan kerangka yang membantu guru menghadirkan pengalaman belajar kontekstual sekaligus meluruskan miskonsepsi yang berkembang.
Webinar "Diskusi Kebijakan Pendidikan: Meluruskan Miskonsepsi Penerapan Pembelajaran Mendalam" diikuti 504 peserta dari berbagai daerah, didominasi guru (44,6%) dan kepala sekolah (19%). Peserta lainnya berasal dari pengawas sekolah, widyaprada, penelaah teknis kebijakan, serta perwakilan UPT Kemendikdasmen, Kementerian Agama, dan dinas pendidikan. Seluruh peserta memberi respons positif dan menilai materi relevan dengan kebutuhan di lapangan. (Linda Efaria dan Putri Maria Daniella Angelita)