Kabar
Soroti Urgensi Pembelajaran Mendalam untuk Peningkatan Mutu Pembelajaran: Reviu Dua Artikel JPKP Vol. 18 No. 1/2025
PSKP, Jakarta – Pendidikan Indonesia masih menghadapi tantangan serius dalam mewujudkan proses pembelajaran yang efektif dalam mengembangkan pemahaman konseptual, kemampuan analisis, dan pemecahan masalah kompleks bagi murid. Oleh karena itu, memasuki fase percepatan peningkatan kualitas belajar, Kemendikdasmen (2025) mendorong penerapan Pembelajaran Mendalam (PM) sebagai langkah strategis untuk menghadirkan pengalaman belajar yang lebih bermakna.
Pembelajaran Mendalam (deep learning) merupakan pendekatan yang menekankan pembelajaran bermakna (meaningful), berkesadaran (mindful), dan menggembirakan (joyful), yang dapat memperkuat keterlibatan dan pemahaman murid secara mendalam dibandingkan pendekatan konvensional yang sering kali hanya berorientasi pada pencapaian nilai dan penyelesaian kurikulum semata.
Selaras dengan itu, bukti penelitian pun telah menunjukkan bahwa penggunaan pendekatan Pembelajaran Mendalam yang terintegrasi secara sistematis dapat meningkatkan pemahaman konseptual peserta didik dan motivasi belajar secara signifikan, terutama ketika strategi pembelajaran diarahkan pada pengembangan keterampilan berpikir tingkat tinggi dalam konteks nyata.
Sejalan dengan itu, dua artikel dalam Volume 18, No. 1 Tahun 2025 Jurnal Penelitian Kebijakan Pendidikan (JPKP) menegaskan pentingnya penguatan Pembelajaran Mendalam (deep learning) sebagai upaya peningkatan mutu pembelajaran melalui penekanan pada pemahaman konseptual, keterampilan berpikir tingkat tinggi, dan relevansi pembelajaran dengan konteks nyata dalam transformasi pendidikan Indonesia.
Praktik Pembelajaran Mendalam pada Mata Pelajaran Kimia
Sumber: Dokumentasi Linda Efaria, Monitoring dan Evaluasi Implementasi Pembelajaran Mendalam 2025
“Pembelajaran Mendalam: Transformasi Pembelajaran Menuju Pendidikan Bermutu” oleh Rahmawati dkk. (2025)
Artikel ini memaparkan bahwa Pembelajaran Mendalam dipandang sebagai kebutuhan strategis untuk membangun kualitas pendidikan nasional. Kajian ini menekankan bahwa Pembelajaran Mendalam mendorong perubahan mendasar dalam cara murid belajar. Alih-alih hanya menghafal atau memahami konsep dasar, Pembelajaran Mendalam menuntut murid mampu mengeksplorasi ide, membuat koneksi antarkonsep, menganalisis kasus nyata, serta menghasilkan solusi kreatif.
Rahmawati dkk. menegaskan bahwa perubahan ini harus dilakukan secara sistemik mulai dari desain kurikulum, strategi pembelajaran, hingga sistem asesmen. Melalui artikel ini, para penulis menguraikan bahwa Pembelajaran Mendalam memungkinkan murid membangun kapasitas berpikir tingkat tinggi dan memberikan dampak signifikan terhadap pembentukan karakter, literasi kritis, serta kesiapan menghadapi dunia kerja dan tantangan global.
Rahmawati dkk. juga menyoroti tantangan yang dihadapi sekolah dalam mengimplementasikan pendekatan ini. Banyak guru masih terjebak pada praktik pembelajaran konvensional yang berorientasi pada target kurikulum dan hasil ujian. Padahal, Pembelajaran Mendalam mensyaratkan perubahan peran guru menjadi fasilitator yang membimbing murid melalui proses investigasi, kolaborasi, dan refleksi. Artikel ini menekankan pentingnya pengembangan profesional guru, penyediaan sumber belajar yang variatif, serta ruang inovasi di sekolah agar Pembelajaran Mendalam dapat diimplementasikan secara merata di seluruh jenjang pendidikan di Indonesia.
“Deep Learning as a Pathway to Pedagogical Transformation in Indonesia” oleh Ambarita dkk. (2025)
Artikel ini menerangkan bahwa Pembelajaran Mendalam tidak hanya berfungsi sebagai strategi pedagogis semata, tetapi juga sebagai kerangka transformasi sistem pendidikan secara menyeluruh di Indonesia. Pendekatan ini diarahkan untuk menjadikan pendidikan lebih inklusif dan berpihak pada murid, serta menyediakan pengalaman belajar yang setara bagi seluruh murid, termasuk mereka dari kelompok rentan dan wilayah 3T.
Artikel ini juga menunjukkan bahwa Pembelajaran Mendalam memberikan kontribusi besar terhadap peningkatan kualitas pembelajaran, pemerataan kesempatan belajar, dan keberlanjutan pengembangan kompetensi. Ambarita dkk. menegaskan bahwa integrasi teknologi pendidikan secara bijak menjadi kunci dalam mendukung Pembelajaran Mendalam melalui pemanfaatan perangkat digital untuk memperluas aktivitas seperti proyek berbasis eksplorasi data, kolaborasi daring, dan asesmen formatif yang autentik serta real time.
Selain itu, artikel ini menjelaskan bahwa transformasi pedagogis hanya dapat terwujud apabila sistem pendidikan Indonesia bergerak dari model surface learning menuju pendekatan yang menempatkan pemahaman konseptual sebagai pusat proses belajar guna menciptakan pengalaman belajar yang bermakna dan berkelanjutan.
Dari hasil sintesis artikel, terlihat bahwa keduanya menyajikan pandangan yang positif dan saling melengkapi mengenai arah kebijakan pendidikan Indonesia ke depan, khususnya terkait peningkatan mutu pembelajaran melalui Pembelajaran Mendalam. Rahmawati dkk. (2025) memberikan penekanan kuat pada praktik dan kesiapan guru sebagai aktor utama pembelajaran mendalam, sementara Ambarita dkk. (2025) menekankan landasan teoretis, kebijakan makro, dan visi nasional mengenai transformasi pedagogis. Secara keseluruhan, keduanya menegaskan bahwa Pembelajaran Mendalam berpotensi menjadi katalis utama dalam mewujudkan peningkatan kualitas pembelajaran yang lebih relevan, adaptif, dan berkeadilan.
Secara keseluruhan, artikel-artikel yang diterbitkan pada JPKP Volume 18 No. 1 Tahun 2025 ini mempertegas bahwa: 1) Pembelajaran Mendalam bukan sekadar wacana pedagogis, tetapi fondasi strategis bagi reformasi pendidikan nasional; 2) peningkatan mutu pembelajaran hanya dapat dicapai melalui perubahan menyeluruh, mulai dari penguatan kapasitas guru, perbaikan desain kurikulum, penyediaan sumber belajar yang lebih inklusif, hingga pemanfaatan teknologi digital secara bermakna; 3) di tengah tuntutan global dan kebutuhan murid yang semakin beragam, Pembelajaran Mendalam hadir sebagai jalan transformatif untuk memastikan setiap murid memperoleh pengalaman belajar yang lebih kontekstual, relevan, kritis, dan berkeadilan.
Ketiga poin tersebut menjadi penting bagi para pemangku kebijakan, guru, kepala sekolah, dan satuan pendidikan sebagai rujukan, wawasan baru, sekaligus alarm pengingat untuk mendorong percepatan inovasi pembelajaran demi mewujudkan tujuan pendidikan Indonesia.
Kedua artikel dapat diakses di jpkp.kemendikdasmen.go.id
[FIW & LE]