Kabar
Pendidikan Siapkan Murid Hadapi Transisi Ekonomi Hijau
PSKP, Jakarta – Selama lebih dari satu dekade, bumi mencatat rekor suhu terpanas, dengan perkiraan suhu 1,43℃ lebih tinggi dibandingkan saat pra-industri (1850–1900) (WMO, 2025). Merespons krisis iklim tersebut, Indonesia menargetkan pertumbuhan ekonomi hijau dalam RPJMN 2025–2029. Namun, terdapat kesenjangan antara capaian saat ini dengan target Indeks Ekonomi Hijau Nasional, sehingga diperlukan penguatan kolaborasi lintas sektor untuk mempercepat pencapaian target pembangunan ekonomi hijau.
Dalam Indonesia’s Sustainability 360 Forum 2026 yang diselenggarakan di Smesco Convention Center, Jakarta Selatan (27/8/2026), Kepala Pusat Standar dan Kebijakan Pendidikan (PSKP), Irsyad Zamjani, menekankan krusialnya peran pendidikan dalam pencapaian ekonomi hijau tersebut.
Irsyad menyoroti perlunya transisi pembelajaran yang lebih hijau agar ekosistem pendidikan dapat beradaptasi. “Sistem pendidikan harus membantu murid memahami perubahan, memecahkan masalah, dan siap bekerja di ekonomi hijau,” jelas Irsyad.
Untuk mewujudkan hal tersebut, terdapat tiga persiapan yang perlu dilakukan oleh pendidik, yaitu green literacy (literasi hijau), transferable skills (keterampilan yang dapat ditransfer), dan technical green skills (keterampilan teknis hijau).
Pemaparan Kepala Pusat Standar dan Kebijakan Pendidikan — Irsyad Zamjani.
Literasi Hijau sebagai Fondasi
Literasi hijau telah terintegrasi secara lintas mata pelajaran melalui “Panduan Pendidikan Perubahan Iklim” serta buku pendidikan yang dapat diakses publik melalui laman resmi buku.kemendikdasmen.go.id
Selain itu, literasi hijau juga telah tercakup dalam dimensi Keimanan & Ketakwaan serta dimensi Kewargaan pada profil lulusan, dengan capaian yang dirancang berjenjang. Pada PAUD, capaian dititikberatkan pada kesadaran menjaga lingkungan sekitar, sedangkan pada jenjang SD, murid mulai dibiasakan pada perilaku menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan. Saat jenjang SMP, murid diajak memahami kaitan antara tindakan sehari-hari dengan keberlanjutan lingkungan. Terakhir, murid SMA/SMK diharapkan dapat berkontribusi aktif dalam menjaga keberlanjutan dan harmoni global.
Praktik Baik Kesadaran Lingkungan yang Sudah Dilakukan Sekolah
Lebih lanjut, Irsyad menyampaikan bahwa implementasi literasi hijau tersebut telah melahirkan berbagai praktik baik melalui metode Pembelajaran Mendalam (deep learning). Di SDN Kuripansari, Mojokerto, misalnya, program Circular Food Garden berhasil mengubah peran murid dari sekadar penerima materi menjadi peran utama yang secara langsung mengalami dan mempraktikkan kesadaran hijau. Para murid diajarkan untuk memilah sampah, menanam dan merawat kebun, serta memanen dan memasak tanaman dari hasil kebun tersebut dengan bimbingan guru.